Karawang, 29 April 2026 Kondisi sarana dan prasarana pendidikan di Madrasah Aliyah (MA) Plus Nurul Al Fath 786, Kabupaten Karawang, memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.

Keterbatasan fasilitas dinilai menghambat proses belajar mengajar sekaligus pengembangan keterampilan siswa
Madrasah Aliyah Plus, yang berlokasi di Dusun Rancanunggul RT 005 RW 003, Desa Labanjaya Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, ini hingga kini masih berjuang dengan fasilitas yang sangat terbatas. Dari total kebutuhan ruang belajar dan penunjang pendidikan, saat ini hanya tersedia empat ruangan. Ironisnya, satu ruangan bahkan harus difungsikan ganda sebagai ruang guru sekaligus ruang kepala sekolah.
Kepala MA Plus Nurul Al Fath 786, Roheti, menegaskan bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah pembangunan Gedung Balai Latihan Kerja (BLK). Menurutnya, fasilitas tersebut sangat krusial untuk menunjang pembelajaran berbasis keterampilan.
“Tanpa fasilitas praktik yang memadai, siswa akan kesulitan bersaing di dunia kerja. BLK ini menjadi kebutuhan utama kami saat ini,” tegasnya.
Ia menjelaskan, madrasah tersebut telah membuka tiga jurusan unggulan, yakni Desain Mekanik Visual, Elektro Industri, serta Perikanan/Pertanian. Kurikulum yang diterapkan merupakan kombinasi seimbang antara pendidikan agama dan pendidikan umum, masing-masing sebesar 50 persen.
Namun demikian, keterbatasan fasilitas membuat potensi tersebut belum dapat dikembangkan secara maksimal.
Senada dengan itu, Ketua Yayasan Al Fath, Labanjaya , H Badrudin
mengungkapkan bahwa sejak berdiri pada tahun 2020 dan mulai melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada 2024, pihak yayasan terus berupaya memenuhi kebutuhan sarana pendidikan secara mandiri.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun keterbatasan anggaran menjadi kendala utama. Kami sangat berharap ada perhatian nyata dari pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun daerah,” ujarnya.
Pihak yayasan menegaskan, bantuan yang dibutuhkan tidak hanya untuk pembangunan ruang kelas tambahan, tetapi juga untuk pembangunan Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai sarana utama praktik siswa.
Kondisi ini menjadi potret nyata bahwa masih ada lembaga pendidikan yang berjuang di tengah keterbatasan, demi mencetak generasi muda yang berilmu, terampil, dan berakhlak.
Dukungan pemerintah diharapkan tidak lagi sebatas wacana, melainkan segera diwujudkan dalam bentuk bantuan konkret. Sebab, masa depan generasi muda tidak bisa menunggu.(Na)















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!